Bisnis vape sempat mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dari sekadar produk alternatif rokok konvensional, vape berkembang menjadi industri dengan ekosistem lengkap, mulai dari device, liquid, pod system, hingga komunitas dan gaya hidup. Namun, memasuki tahun 2026, banyak pelaku usaha dan calon pebisnis bertanya: apakah bisnis vape masih relevan di 2026? Ataukah justru akan mengalami penurunan?
Artikel ini akan membahas secara komprehensif relevansi bisnis vape di 2026, dilihat dari sisi pasar, regulasi, perilaku konsumen, hingga peluang bisnis yang masih terbuka.
Gambaran Singkat Industri Vape Saat Ini
Industri vape tidak lagi berada di fase “booming awal”. Saat ini, pasar sudah memasuki fase lebih matang. Konsumen tidak hanya membeli karena tren, tetapi mulai selektif terhadap:
- Kualitas produk
- Keamanan
- Brand
- Harga
- Ketersediaan
Vape juga mengalami pergeseran dari mod besar ke pod system yang lebih praktis, terutama di pasar Asia, termasuk Indonesia.
Perubahan Perilaku Konsumen Menuju 2026
Salah satu faktor penting untuk menilai relevansi bisnis vape di 2026 adalah perubahan perilaku konsumen.
1. Konsumen Lebih Dewasa dan Selektif
Jika dulu banyak pengguna mencoba vape karena ikut-ikutan, kini mayoritas pengguna:
- Sudah tahu preferensi rasa
- Setia pada merek tertentu
- Tidak mudah pindah produk
Artinya, pasar mungkin tidak secepat dulu bertumbuh, tetapi lebih stabil dan loyal.
2. Dominasi Pod System
Pod system menjadi pilihan utama karena:
- Lebih simpel
- Lebih tertutup
- Lebih praktis untuk penggunaan harian
Bisnis vape di 2026 yang masih fokus pada tren lama tanpa adaptasi kemungkinan akan tertinggal.
Apakah Pasar Vape Akan Jenuh?
Pasar vape bukan jenuh, tetapi berubah bentuk. Ini perbedaan yang sangat penting.
Pasar jenuh berarti tidak ada permintaan. Faktanya, permintaan masih ada, tetapi:
- Pertumbuhan tidak seagresif awal
- Persaingan semakin ketat
- Margin keuntungan lebih menantang
Bisnis vape di 2026 tidak lagi cocok untuk pendekatan “jual cepat tanpa konsep”.
Regulasi: Tantangan Terbesar di 2026
Salah satu faktor penentu relevansi bisnis vape adalah regulasi. Di banyak negara, termasuk Indonesia, vape berada di area yang semakin diawasi.
Beberapa tantangan regulasi yang kemungkinan masih ada di 2026:
- Pajak produk vape
- Pembatasan usia
- Pengawasan distribusi
- Aturan iklan dan promosi
Namun, regulasi tidak selalu berarti kematian bisnis. Justru, regulasi sering menyaring pelaku usaha yang tidak serius.
👉 Bisnis vape yang patuh regulasi cenderung lebih bertahan lama.
Apakah Vape Masih Dibutuhkan di 2026?
Pertanyaan kunci: apakah masih ada kebutuhan?
Jawabannya: ya, tetapi dengan konteks berbeda.
Banyak pengguna vape bukan lagi “pencoba”, melainkan:
- Pengguna rutin
- Pengguna dewasa
- Pengguna yang mencari alternatif tertentu
Selama kebutuhan itu ada, bisnisnya tetap relevan. Namun, pendekatan bisnisnya harus berubah.
Peluang Bisnis Vape di 2026
1. Vape sebagai Bisnis Retail Niche
Di 2026, bisnis vape cenderung bergerak ke arah niche market, bukan pasar massal.
Contoh niche:
- Liquid premium
- Pod system tertentu
- Konsumen dewasa dengan preferensi spesifik
Toko vape yang punya identitas jelas akan lebih bertahan dibanding toko yang “menjual semua tanpa fokus”.
2. Private Label dan Brand Lokal
Peluang besar ada pada:
- Brand liquid lokal
- Private label untuk komunitas tertentu
- Produk dengan karakter khas
Konsumen 2026 lebih menghargai cerita, konsistensi, dan kualitas, bukan sekadar harga murah.
3. Online + Offline Hybrid
Bisnis vape di 2026 hampir wajib menggabungkan:
- Toko fisik (untuk pengalaman & kepercayaan)
- Kanal digital (untuk jangkauan & komunikasi)
Toko vape yang hanya mengandalkan offline tanpa kehadiran digital akan sulit berkembang.
4. Edukasi dan Komunitas
Nilai tambah bisnis vape ke depan bukan hanya produk, tetapi:
- Edukasi pengguna
- Layanan purna jual
- Komunitas
Bisnis yang mampu membangun hubungan jangka panjang akan lebih relevan dibanding yang hanya fokus transaksi.
Tantangan Bisnis Vape di 2026
Meski masih relevan, bisnis vape jelas tidak mudah.
1. Persaingan Ketat
Jumlah pelaku usaha banyak, sementara konsumen makin selektif. Tanpa diferensiasi, bisnis mudah tenggelam.
2. Margin Lebih Tipis
Harga ditekan oleh pajak, kompetisi, dan biaya operasional. Efisiensi menjadi kunci.
3. Perubahan Tren Cepat
Produk yang laku hari ini belum tentu relevan enam bulan ke depan. Adaptasi adalah keharusan.
Apakah Bisnis Vape Masih Menguntungkan?
Jawabannya relatif.
✔ Menguntungkan jika:
- Punya konsep jelas
- Patuh regulasi
- Fokus pada kualitas
- Punya pasar loyal
✖ Tidak menguntungkan jika:
- Hanya ikut tren
- Tidak punya diferensiasi
- Mengabaikan aturan
- Mengandalkan perang harga
Bisnis vape di 2026 bukan lagi “bisnis instan”.
Perbandingan Bisnis Vape Dulu vs 2026
| Aspek | Dulu | 2026 |
|---|---|---|
| Pasar | Euforia | Matang |
| Konsumen | Coba-coba | Loyal |
| Produk | Mod besar | Pod system |
| Kompetisi | Rendah | Tinggi |
| Strategi | Volume | Value |
Tabel ini menunjukkan bahwa bisnis vape berevolusi, bukan mati.
Apakah Bisnis Vape Cocok untuk Pemula di 2026?
Masih bisa, dengan catatan.
Pemula harus:
- Belajar regulasi sejak awal
- Tidak berharap hasil cepat
- Fokus pada segmen tertentu
- Punya modal mental dan strategi
Masuk ke bisnis vape di 2026 tanpa riset justru berisiko tinggi.
Masa Depan Bisnis Vape: Mati atau Bertransformasi?
Bisnis vape tidak menuju kematian, tetapi transformasi.
Arah ke depan:
- Lebih tertib
- Lebih dewasa
- Lebih berkualitas
- Lebih bertanggung jawab
Pelaku usaha yang menolak perubahan akan tertinggal, sementara yang adaptif justru menemukan peluang baru.
Kesimpulan: Apakah Masih Relevan Bisnis Vape di 2026?
Ya, bisnis vape masih relevan di 2026, tetapi dengan wajah yang sangat berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Relevan bukan berarti mudah. Bisnis vape di 2026:
- Bukan bisnis instan
- Bukan sekadar jualan device
- Bukan sekadar ikut tren
Ini adalah bisnis yang menuntut:
- Konsep
- Etika
- Kepatuhan
- Inovasi
Bagi pelaku usaha yang siap beradaptasi, 2026 bukan akhir bisnis vape, melainkan fase kedewasaan industri.